Home Lumajang Pemkab Lumajang Percepat Pemulihan Dam Klerek, 3.000 Hektare Sawah Terancam Kehilangan Pasokan Air

Pemkab Lumajang Percepat Pemulihan Dam Klerek, 3.000 Hektare Sawah Terancam Kehilangan Pasokan Air

Mempercepat Perbaikan Dam Akibat Kerusakan Banjir Lahar Semeru

50
0
SHARE
Pemkab Lumajang Percepat Pemulihan Dam Klerek, 3.000 Hektare Sawah Terancam Kehilangan Pasokan Air

Seputar Lumajang — Pemerintah Kabupaten Lumajang tengah mempercepat upaya pemulihan Dam Klerek di Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, yang rusak akibat dampak lahar Gunung Semeru. Infrastruktur pengairan tersebut dinilai vital karena terhubung langsung dengan sistem irigasi yang menopang ribuan hektare lahan sawah di wilayah selatan kabupaten.

Bupati Lumajang Indah Amperawati menegaskan, kerusakan akibat bencana tidak hanya berdampak pada bangunan fisik, tetapi juga mengganggu pasokan air sebagai penopang utama kegiatan pertanian masyarakat.

“Kerusakan dam ini berdampak langsung pada distribusi air untuk sawah. Kalau irigasi terganggu, petani kesulitan menanam dan hasil produksi bisa menurun,” ujarnya saat meninjau lokasi, Selasa (19/5/2026).

Pemerintah daerah telah mengusulkan perbaikan Dam Klerek kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar penanganan bisa segera direalisasikan. Dam tersebut menjadi salah satu titik prioritas karena berperan mendistribusikan air ke sejumlah kawasan pertanian di sekitarnya.

Selain Dam Klerek, dua titik lain yaitu Dam Lobang Kiri dan Kedung Caring juga menjadi bagian dari jaringan irigasi yang saling terhubung. Ketiga infrastruktur tersebut menopang aliran air untuk lahan pertanian di beberapa desa sekitar.

Substansi utama penanganan ini adalah menjaga keberlangsungan sawah pascabencana. Bagi masyarakat desa, ketersediaan irigasi menjadi penentu apakah lahan bisa kembali ditanami atau tidak. Ketika aliran air terputus, sawah berpotensi tidak produktif sehingga pendapatan petani ikut terdampak.

Bupati menyebut, apabila seluruh jaringan irigasi itu pulih, hampir 3.000 hektare sawah dapat kembali menerima pasokan air dan mendukung musim tanam secara normal.

“Yang kami jaga bukan hanya dam, tetapi keberlangsungan pertanian masyarakat. Air adalah kebutuhan utama petani agar sawah tetap produktif,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pascabencana, pemulihan sektor pertanian sangat bergantung pada infrastruktur pengairan. Tanpa saluran air yang berfungsi, proses tanam akan terganggu dan berdampak pada produksi pangan masyarakat.

Di tengah proses penanganan, warga menunjukkan ketangguhan melalui kerja bakti bersama pemerintah desa. Petani di Gesang, Pulo, dan Jatisari bergotong royong membuka jalur air sementara agar sawah tetap bisa dialiri.

Langkah tersebut menjadi bukti bahwa ketahanan pertanian pascabencana tidak hanya bergantung pada pembangunan pemerintah, tetapi juga kekuatan sosial masyarakat dalam menjaga keberlangsungan produksi pangan.

Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai pemulihan irigasi menjadi prioritas karena pertanian merupakan sektor utama yang menopang ekonomi desa. Ketika sawah tetap terairi, masyarakat masih memiliki peluang mempertahankan hasil panen dan pendapatan keluarga.

Melalui percepatan perbaikan Dam Klerek dan jaringan pendukungnya, pemerintah daerah berupaya memastikan dampak lahar Semeru tidak berlanjut menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas. Sebab setelah bencana, menjaga aliran air berarti menjaga sawah tetap hidup, menjaga panen tetap tumbuh, dan menjaga kehidupan petani tetap berjalan.

Penulis: Cucuk Donartono.